MAAF TUHAN, SAYA SEDANG LIBURAN : Bersyukur dalam Traveling

(*Sebuah renungan untuk menasehati diri saya sendiri yang semoga bermanfaat bagi orang lain)
oleh Pandji Kiansantang

PK di Mushola Pahawang

Hampir jam 5 pagi suara adzan Subuh terdengar syahdu di keheningan Pulau Pahawang,. Sepagi itu sudah terlihat aktivitas dari warga setempat yang mempersiapkan buka warung. Tampak dari rumah homestay, beberapa wisatawan muda berhijab keluar untuk shalat Subuh berjamaah di musholla.

Tapi pada dini hari ini kebanyakan wisatawan masih tidur lelap terbuai mimpi. Kontras dengan pemandangan tadi malam dimana puluhan orang hangout di pantai sampai larut malam.

Pahawang, pulau kecil di Lampung Selatan , yg dalam 5 tahun menjadi buah bibir para wisatawan domestik, terutama karena lokasi2 snorkeling yg menawan. Wisatawan menjulukinya “Pahawang, “a piece of paradise”, sekeping Surga”.

“Surga di dunia” : pulau tropis yg indah, adalah simbol pesona Daerah Tujuan Wisata. “Pulau Dewata” Bali adalah contoh idealnya. Pahawang dan pulau2 lainnya adalah “Bali-bali kecil” yang menjadi magnet bagi “wisatawan domestik” (Wisdom) maupun “wisatawan mancanegara” (wisman).Walaupun jauh, tapi berbondong2 orang kota mendatanginya utk re-freshing, melepaskan stress dari beban kehidupan. “Escapade to Paradise”

Tapi suasana Subuh di Pahawang juga menceritakan sisi lain gaya hidup (lifestyle) wisatawan di lokasi wisata. Tanpa bermaksud menghakimi, ini juga merupakan gambaran  perilaku sebagian wisatawan muslim ketika Traveling.

Banyaknya “godaan liburan”, membuat mereka yang taat beribadah  di tempat asalnya, “berlibur” juga ibadahnya ketika sampai di tempat liburan. Mereka meninggalkan shalat dengan alasan musafir. Dengan alasan keakraban, ada yang ikut2an teman perjalanan yg nonmuslim utk minum bir dan makan masakan yang tak halal. Bisa dibilang,  kecuali yang memakai hijab, terlepas identitas mereka sebagai seorang muslim.

Padahal sebelumnya Kita rajin berdoa agar kita dikarunai rezeki, termasuk untuk traveling. Sesaat sebelum berangkat traveling, kita masih berdoa utk keselamatan. Semua ibadah dilaksanakan sampai…  tiba di lokasi traveling. Kita bukan hanya liburan dari bekerja, tapi juga “liburan dari Ibadah.” Seakan-akan Doa  diganti dengan foto narsis dan selfie, sajadah berganti tongsis, zikir berganti tawa canda dengan teman-teman. Tiada yang salah dengan bersenang-senang. Yang salah adalah ketika kita melupakan yang mengkaruniakan kita kesempatan dan rezeki untuk bersenang-senang, yaitu Tuhan.

“Hidup adalah Perjalanan”, tentunya kita semua tahu itu. Yang sering kita tidak sadar, bahwa kita-lah SANG MUSAFIR dalam perjalanan itu. Kita ambil contoh bahwa perjalanannya adalah MENDAKI GUNUNG seperti yang banyak dilakukan oleh pecinta alam ke Gunung Semeru, Gunung Gede, Gunung Rinjani sampai puncak tertinggi di Jayawijaya, Papua.

Perjalanan kita sebagai “Pendaki” (Climber) akan diwarnai suka-duka serta akan mengalami banyak hambatan selama perjalanan, seperti cuaca dingin yang membeku,  hujan deras, angin besar, jalan yang curam dan terjal, jurang yang menghadang dan sebagainya. Selalu ada resiko untuk cedera dan celaka. Tapi setelah tiba di Puncak gunung, semua jerih payah akan terbayar lunas. Melihat matahari terbit dan alam sekeliling dari puncak gunung adalah pemandangan spektakuler yang takkan dapat digambarkan dengan kata-kata.

Kalau kita anggap bahwa “Puncak Gunung” adalah lokasi tujuan wisata, seperti Bali atau Pahawang, layakkah kita berperilaku seperti ini : sepanjang pendakian kita berdoa untuk keselamatan kita. Tapi setelah sampai di Puncak, justru kita LUPA DIRI dan LUPA TUHAN. Lupakah kita bahwa setelah menikmati puncak gunung, kita harus pulang, yang artinya harus turun gunung dengan perjalanan yang juga memiliki resiko cedera dan celaka? Masihkan kita berani tidak berdoa untuk keselamatan kita? Kadang-kadang turun gunung lebih berbahaya dari mendakinya  karena stamina sudah drop karena keletihan,apalagi jika hujan deras yang menyebabkan jalan licin yang dapat membuat kita terpeleset jatuh. Masih kita berani melupakan Tuhan dengan tidak berdoa?

Gambaran di atas menunjukkan bahwa seharusnya kita selalu bersyukur, berdoa dan beribadah di setiap waktu dan di setiap tempat… di mana saja dan kapan saja… termasuk ketika liburan.

Justru di tempat wisata, kita harus LEBIH BANYAK BERSYUKUR bahwa kita termasuk “orang beruntung” yang dikaruniai Tuhan dalam Kesehatan, Waktu luang dan Rezeki uang untuk dapat Traveling. Alhamdulillah bisa dapat Traveling !

(*Renungan Pandji Kiansantang di Pulau Pahawang, Lampung Selatan, Ahad 31 Juli 2016 jam 7 pagi)

KUNCI SUKSES ZIARAH WALISONGO

oleh Pandji Kiansantang :

1) Pemilihan waktu yg tepat : yang terbaik adalah sesudah Lebaran dimana peziarah tidak membludak dan jalanan relatif sepi : nyaman dalam perjalanan,

2) Awali dengan Luruskan Niat untuk Ziarah Wali : lillahi ta’ala, jangan “ngalap berkah” dan minta dari manusia sekalipun Wali atau ‘makam keramat”,
yg akan jatuh pada syiriq : suatu dosa maha besar. Waspadalah!

3) Pelajari dulu sejarah dan info ttg tempat yg akan dikunjungi sehingga kita lebih paham dan apresiatif,

4) Selain ke Makam2 para Wali, harus kunjungi dan shalat di Masjid Demak sebagai Masjid jami pertama di Pulau Jawa  yang dibangun para Wali. Di luar Demak, sempatkan Shalat di Masjid yg ada di sekitar komplek makam (Tahiyatul Masjid dan Shalat Wajib} : Cinta Masjid, jangan tinggalkan Shalat utk ziarah,

5) Abadikan momen penting ini dg Berfoto secukupnya 1-2 X saja TANPA Blitz/Flash dan suara (Perhatikan : ada larangan berfoto/mengambil gambar di Masjid Demak dan makam2 tertentu). Di Menara Kudus ada jasa foto sekali jadi cetak. Mintalah softcopy-nya dg bawa USB sendiri,

6) Rencanakan apa yg akan kita lakukan ketika berziarah di makam : jangan ikut2an peziarah yg tahlil dan berdoa berjamaah karena bisa makan banyak waktu. Bacalah Doa utk mendoakan sang Wali dan agar kita dapat meneladani perilaku sang Wali, seperti Sunan Drajat yg menekankan membantu kaum dhuafa,

7) Bersikaplah hormat dan jaga perilaku di antara lingkungan makam (banyak nisan) : ucapkan “Assalamualaikum ya Ahli Qubur” dan jangan injak batu nisan sembarangan,

8) Bersikaplah khidmat dan khusyu : esenzi ziarah kubur adalah Ingat Mati & meminimalkan Cinta Dunia serta Bersyukur pada Nikmat karunia Kehidupan,  Umur, Kesehatan dan Rezeki yg memungkinkan kita berziarah),

9) Belilah “memorabilia” suvenir cenderamata (seperti gantungan kunci, kaos) dari SETIAP lokasi yg dikunjungi : khas yg takkan bisa dibeli di tempat lain,

10) Bawa perlengkapan shalat, kantung plastik utk bawa sandal yg harus dilepas (kalau ditaruh di depan pintu makam beresiko hilang). Jika ramai peziarah, jagalah dompet dan barang2 berharga Anda. Di beberapa tempat dipasang papan peringatan tentang resiko pencopetan dan pencurian. Janganlah jadi korban kejahatan,

11) Siapkan uang Shadaqah karena pada hampir pada semua makam Wali ada Kotak Amal bagi Peziarah. Di beberapa tempat, banyak pengemis, jika ingin derma siapkan uang receh, tapi ada resiko akan dikerubungi dan dikejar2 pengemis,

12) Catat Inspirasi dari setiap makam yg diziarahi dan buat RENCANA TINDAKAN seperti Perilaku para Wali yg akan diteladani utk memperbaiki hidup kita –> Jadikan Ziarah Wali Songo ini sebagai Perjalanan yang Insya Allah dapat “mengubah hidup” (Life-changing journey).

*** “Wisata Ziarah Lebaran” Hari ke-4 (Terakhir) oleh Pandji Kiansantang & Amalia, Surabaya, Selasa 12 Juli 2016 (7 Syawal 1437 Hijriah).

BELAJAR “MAKNA PERJUANGAN HIDUP” DARI SANG PETINJU, MUHAMMAD ALI

 M Ali

Innalillahi wa inna lilahi rojiun. Telah meninggal dunia pada 3 Juni 2016 atau beberapa hari sebelum datangnya bulan suci Ramadhan : Muhammad Ali, 3 X Juara Tinju  kelas Berat dunia yang mengharumkan nama atlet muslim dunia. Ia adalah Legenda, salah satu petinju (Boxer) terhebat sepanjang masa. Ia adalah idola jutaan orang di seluruh dunia.

Muhammad Ali memang sangat menginspirasi. Bukan hanya berani di pertandingan tinju (gaya bertinjunya dikenal dengan gaya Ali), tapi dalam kehidupan bermasyarakatpun, ia adalah sosok pemberani (mengingat ia adalah etnis minoritas Afro-Amerika yang pada masa itu merupakan warganegara kelas dua yang mengalami diskriminasi di Amerika Serikat).

Ia berani kehilangan gelar juara kelas berat dunia karena membela prinsip menolak Perang Vietnam. Langkah yang sangat langka pada masa kini. Keberaniannya bersuara sempat membuatnya dijuluki “si Mulut Besar”. Almarhum juga sangat menonjolkan identitasnya sebagai Muslim : “I am Moslem !”.

Kisah suksesnya di dunia tinju mengesankan, tapi lebih mengharukan adalah perjuangannya menghadapi penyakit parkinson yang diakibatkan cedera otak karena akumulasi benturan pukulan yang diterimanya selama karir bertinju.

Ali yang dulunya perkasa sehingga pernah dijuluki dan dibuatkan lagu berjudul “Black Superman”, menghabiskan usia tuanya berjuang melawan penyakit yang membuatnya lemah tak berdaya dan lemah ingatan. Almarhum menghadapi ujian keimanan berupa penyakit parah. Mudanya bagaikan Hercules, di masa tuanya bagaikan Nabi Ayyub AS.

Kini baginya semuanya sudah selesai baik lonceng di ring tinju maupun batas waktu kehidupan di dunia.

Ia sudah membuktikan bahwa ia adalah PETARUNG YANG TANGGUH dalam pertandingan tinju, PETARUNG dalam kehidupan sosial  yang berani menyuarakan hak-hak minoritas dan akhirnya menjadi PETARUNG yang tabah dan sabar dalam menghadapi penyakit kronis di masa tuanya.
He is a Real Fighter.
Ia adalah PETARUNG SEJATI.

Terimakasih Mohammad Ali…

Semoga kita dapat mengikuti jejaknya dengan menjadi pribadi PEMBERANI dalam membela Agama, kebenaran dan memihak masyarakat yang lemah, serta TANGGUH dalam menghadapi berbagai masalah dan kesulitan hidup!

(Berbagi inspirasi pada hari Minggu yang indah menjelang bulan suci Ramadhan oleh Pandji Kiansantang, 5 Juni 2016)