KUNCI SUKSES ZIARAH WALISONGO

oleh Pandji Kiansantang :

1) Pemilihan waktu yg tepat : yang terbaik adalah sesudah Lebaran dimana peziarah tidak membludak dan jalanan relatif sepi : nyaman dalam perjalanan,

2) Awali dengan Luruskan Niat untuk Ziarah Wali : lillahi ta’ala, jangan “ngalap berkah” dan minta dari manusia sekalipun Wali atau ‘makam keramat”,
yg akan jatuh pada syiriq : suatu dosa maha besar. Waspadalah!

3) Pelajari dulu sejarah dan info ttg tempat yg akan dikunjungi sehingga kita lebih paham dan apresiatif,

4) Selain ke Makam2 para Wali, harus kunjungi dan shalat di Masjid Demak sebagai Masjid jami pertama di Pulau Jawa  yang dibangun para Wali. Di luar Demak, sempatkan Shalat di Masjid yg ada di sekitar komplek makam (Tahiyatul Masjid dan Shalat Wajib} : Cinta Masjid, jangan tinggalkan Shalat utk ziarah,

5) Abadikan momen penting ini dg Berfoto secukupnya 1-2 X saja TANPA Blitz/Flash dan suara (Perhatikan : ada larangan berfoto/mengambil gambar di Masjid Demak dan makam2 tertentu). Di Menara Kudus ada jasa foto sekali jadi cetak. Mintalah softcopy-nya dg bawa USB sendiri,

6) Rencanakan apa yg akan kita lakukan ketika berziarah di makam : jangan ikut2an peziarah yg tahlil dan berdoa berjamaah karena bisa makan banyak waktu. Bacalah Doa utk mendoakan sang Wali dan agar kita dapat meneladani perilaku sang Wali, seperti Sunan Drajat yg menekankan membantu kaum dhuafa,

7) Bersikaplah hormat dan jaga perilaku di antara lingkungan makam (banyak nisan) : ucapkan “Assalamualaikum ya Ahli Qubur” dan jangan injak batu nisan sembarangan,

8) Bersikaplah khidmat dan khusyu : esenzi ziarah kubur adalah Ingat Mati & meminimalkan Cinta Dunia serta Bersyukur pada Nikmat karunia Kehidupan,  Umur, Kesehatan dan Rezeki yg memungkinkan kita berziarah),

9) Belilah “memorabilia” suvenir cenderamata (seperti gantungan kunci, kaos) dari SETIAP lokasi yg dikunjungi : khas yg takkan bisa dibeli di tempat lain,

10) Bawa perlengkapan shalat, kantung plastik utk bawa sandal yg harus dilepas (kalau ditaruh di depan pintu makam beresiko hilang). Jika ramai peziarah, jagalah dompet dan barang2 berharga Anda. Di beberapa tempat dipasang papan peringatan tentang resiko pencopetan dan pencurian. Janganlah jadi korban kejahatan,

11) Siapkan uang Shadaqah karena pada hampir pada semua makam Wali ada Kotak Amal bagi Peziarah. Di beberapa tempat, banyak pengemis, jika ingin derma siapkan uang receh, tapi ada resiko akan dikerubungi dan dikejar2 pengemis,

12) Catat Inspirasi dari setiap makam yg diziarahi dan buat RENCANA TINDAKAN seperti Perilaku para Wali yg akan diteladani utk memperbaiki hidup kita –> Jadikan Ziarah Wali Songo ini sebagai Perjalanan yang Insya Allah dapat “mengubah hidup” (Life-changing journey).

*** “Wisata Ziarah Lebaran” Hari ke-4 (Terakhir) oleh Pandji Kiansantang & Amalia, Surabaya, Selasa 12 Juli 2016 (7 Syawal 1437 Hijriah).

BELAJAR “MAKNA PERJUANGAN HIDUP” DARI SANG PETINJU, MUHAMMAD ALI

 M Ali

Innalillahi wa inna lilahi rojiun. Telah meninggal dunia pada 3 Juni 2016 atau beberapa hari sebelum datangnya bulan suci Ramadhan : Muhammad Ali, 3 X Juara Tinju  kelas Berat dunia yang mengharumkan nama atlet muslim dunia. Ia adalah Legenda, salah satu petinju (Boxer) terhebat sepanjang masa. Ia adalah idola jutaan orang di seluruh dunia.

Muhammad Ali memang sangat menginspirasi. Bukan hanya berani di pertandingan tinju (gaya bertinjunya dikenal dengan gaya Ali), tapi dalam kehidupan bermasyarakatpun, ia adalah sosok pemberani (mengingat ia adalah etnis minoritas Afro-Amerika yang pada masa itu merupakan warganegara kelas dua yang mengalami diskriminasi di Amerika Serikat).

Ia berani kehilangan gelar juara kelas berat dunia karena membela prinsip menolak Perang Vietnam. Langkah yang sangat langka pada masa kini. Keberaniannya bersuara sempat membuatnya dijuluki “si Mulut Besar”. Almarhum juga sangat menonjolkan identitasnya sebagai Muslim : “I am Moslem !”.

Kisah suksesnya di dunia tinju mengesankan, tapi lebih mengharukan adalah perjuangannya menghadapi penyakit parkinson yang diakibatkan cedera otak karena akumulasi benturan pukulan yang diterimanya selama karir bertinju.

Ali yang dulunya perkasa sehingga pernah dijuluki dan dibuatkan lagu berjudul “Black Superman”, menghabiskan usia tuanya berjuang melawan penyakit yang membuatnya lemah tak berdaya dan lemah ingatan. Almarhum menghadapi ujian keimanan berupa penyakit parah. Mudanya bagaikan Hercules, di masa tuanya bagaikan Nabi Ayyub AS.

Kini baginya semuanya sudah selesai baik lonceng di ring tinju maupun batas waktu kehidupan di dunia.

Ia sudah membuktikan bahwa ia adalah PETARUNG YANG TANGGUH dalam pertandingan tinju, PETARUNG dalam kehidupan sosial  yang berani menyuarakan hak-hak minoritas dan akhirnya menjadi PETARUNG yang tabah dan sabar dalam menghadapi penyakit kronis di masa tuanya.
He is a Real Fighter.
Ia adalah PETARUNG SEJATI.

Terimakasih Mohammad Ali…

Semoga kita dapat mengikuti jejaknya dengan menjadi pribadi PEMBERANI dalam membela Agama, kebenaran dan memihak masyarakat yang lemah, serta TANGGUH dalam menghadapi berbagai masalah dan kesulitan hidup!

(Berbagi inspirasi pada hari Minggu yang indah menjelang bulan suci Ramadhan oleh Pandji Kiansantang, 5 Juni 2016)