RELAWAN ADALAH DERMAWAN

“Dipersembahkan untuk relawan karyawan Summarecon”

Oleh: Pandji Kiansantang (22 Oktober 2013)

 

Wahai kawan, Hidup ini Indah
Asalkan kita selalu bersyukur
Melihat apa yang  sudah kita miliki daripada yang belum
Lebih melihat ke bawah daripada ke atas

Meyakini dibalik setiap musibah pasti ada hikmah
Percaya bahwa sesudah kesulitan akan ada kemudahan
Menyadari dalam kesempitan ada kesempatan
Selalu ada jalan keluar bagi yang berusaha

Bukalah hati nurani kita
Masih banyak saudara kita yang menderita
Bumi merana karena ulah manusia
Renungkan, apakah kita memberi manfaat atau merugikan?

Terharu dan prihatin saja tidak cukup,
Yang diperlukan adalah Tindakan Nyata
Dunia menunggu aksi kita
Untuk berbuat sesuatu memperbaiki keadaan

Membantu sesama tidak selalu butuh harta
Sumbangan tenaga sudah cukup bermakna
Awali dengan cinta kasih yang tulus
Relawan sesungguhnya adalah dermawan

Yakinlah kebenaran hukum alam :
“Makin banyak memberi, makin banyak menerima”
Berbuat baik menambah pahala kita
Supaya bahagia di dunia dan akhirat

Jakarta, 22 Oktober 2013

Puisi : SURAT UNTUK TUHAN… DARI SEORANG KARYAWAN

Karya : Pandji Kiansantang (10 April 2011)

 
Seperti Inikah dunia kerja?
Kesibukan yang tiada habisnya,

Pekerjaan yang tidak ada beresnya

Deadline dan rapat datang silih berganti.

Menghadapi omelan Atasan, dan keluhan Bawahan sudah jadi bagian Job Desc sehari-hari

Tak sadar waktu berjalan begitu cepat, usia menua, rambut mulai memutih, kening makin berkerut

Perut makin buncit dan penyakit menumpuk.

Pendapatan seakan tidak pernah cukup,

Gaji yang numpang lewat memaksa kami untuk ahli dalam hal gali lobang tutup lobang.

Jalanan makin macet, 2 jam perjalanan pergi dan 3 jam perjalanan pulang sudah menjadi hal biasa. Apa boleh buat umur, habis di jalan.

Sering kali saat pulang bekerja, anak sudah lelap tidur, dan kami pergi bekerja saat mereka belum terbangun.

Rutinitas membuat kita kehilangan kemanusiaan dan menjadi robot di tempat kerja

Stress seakan-akan sudah menjadi kompetensi kami.

Kami ingin menjadi Karyawan Teladan, bukan karyawan Telatan.

Bersosialisasi di kantor untuk Net-working, bukan Not-working

Kami ingin dapatkan Promosi, bukan Promo-singkir.

Karyawan adalah Asset, bukan Keset

Karyawan seharusnya Di-berdayakan, bukan Di-perdayakan

Jika kami belum berprestasi, kami ingin Dibina, bukan Dibina-sakan

Semua seakan sudah lengkap, dan sudah kami lakukan, kecuali satu hal : bersyukur dan berterima kasih.

Terima kasih Tuhan, Kau telah karuniakan kami rezeki dan pekerjaan yang menafkahi istri dan anak kami.

Ampuni kami Tuhan karena tidak pernah merasa puas dan selalu menjerit kekurangan rezeki

Ya Tuhan Kami, jadikan kami sebagai Makhluk-Mu yang pandai bersyukur

Tentramkan hati kami dengan apapun yang telah kami miliki, jangan biarkan hati kami risau dengan apa-apa yang dimiliki orang lain dan belum kami miliki.

Bimbing kami untuk meraih Sukses, yaitu mendapatkan apa yang kami inginkan

Tapi di atas segalanya, ajarkan kami tentang arti sesungguhnya dari Bahagia yaitu menginginkan apa yang telah kami dapatkan.

Jangan jadikan pekerjaan kami sekedar menghabiskan usia, melainkan hari-hari untuk menghimpun tabungan pahala dan menciptakan berbagai hasil karya yang bermanfaat.

Jadikan pekerjaan kami sekarang sebagai sarana ibadah dan niat untuk membesarkan nama-Mu

Terangi kami agar tetap menapaki Jalan Lurus dalam bekerja, tidak tergoda melakukan penyimpangan dan penyalahgunaan.

Jadikan rekan kerja kami sebagai Mitra Kebaikan, dan tempat kerja kami sebagai Ladang Amal Kebajikan.

Berkahilah gaji kami, jadikan mampu mencukupi dan dapat menabung untuk masa depan kami.

Berilah kami kemampuan mengelola uang untuk membedakan antara yang benar-benar Kebutuhan dan yang sekedar Keinginan untuk memenuhi hasrat gaya hidup

Majukan karier kami atas dasar prestasi, bukan dengan menjilat atasan dan menginjak bawahan.

Karuniakan kami kemampuan untuk membina, sehingga rumput di pekarangan tetangga tidak terlihat selalu lebih hijau, karena kita tidak pernah merawat rumput di pekarangan sendiri.

Jadikan semangat bekerja sebagai karakter kami sehingga kami meyambut Senin pagi sama bersemangatnya dengan menyongsong Jum’at sore. Biarkan kami mengubur dalam-dalam ”I don’t like Monday” dan memendam kegembiraan ”Thanks God it’s Friday”

Seimbangkan hidup kami antara tugas dan keluarga,

Antara bekerja dan olahraga…,

dan untuk mencari kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak.

Walaupun dipisahkan oleh jarak dan waktu, jangan jauhkan hati kami dengan orang-orang yang kami kasihi.

Sadarkan kami bahwa kehidupan bagai roda beputar. Tak selamanya kita selalu berada di atas ataupun di bawah.

Hindarkan agar kami tidak mendewakan jabatan sebagai status dan kekuasaaan, tapi sebagai amanat dan tanggung jawab

Lembutkan hati kami untuk dapat bekerja sama dengan rekan kerja kami.

Buka mata-hati kami untuk Peduli dan Ikhlas membantu mereka yang memerlukan bantuan.

Mampukan kami untuk lebih menghargai anak buah yang selama ini membantu kami. Mudahkan kami untuk secara tulus melakukan hal-hal yang sesungguhnya sederhana, seperti mengucapkan terima kasih bila di bantu, dan lebih jeli melihat sisi baik dari setiap orang.

Lancarkan lidah kami untuk memuji setiap kemajuan dan tugas yang dikerjakan dengan baik.

Jadikanlah kami sebagai pemimpin yang baik bagi anak buah kami.

Terima kasih kepada Atasan kami yang di tengah kesibukannya tetap berusaha membimbing kami.

Terima kasih kepada perusahaan yang telah begitu baik kepada kami dengan menjadi jalan rezeki bagi kami.

Di atas segalanya, kubersujud berterimakasih pada-Mu Sang Maha Pencipta.

Kau jadikan dunia ini begitu indah dan kehidupan ini begitu berharga

Ya Tuhan-ku jangan kerdilkan diri kami dengan kesombongan dan sifat takabur. Tinggikan derajat kami dengan Ilmu Padi, semakin berisi, semakin rendah hati.

Tegarkan kami untuk menerima gelombang perubahan menuju kemajuan…

karena sesungguhnya di dunia ini tidak ada yang tetap kecuali perubahan itu sendiri.

Karuniakanlah Ilmu-Mu agar kami terus mau belajar dengan berbesar hati untuk senantiasa memperbaiki kekurangan-kekurangan kami.

Akhirnya Tuhan ku jadikan keberadaan kami di dunia yang fana ini menjadi karunia bagi dunia, menjadi garam dan terang bagi dunia.

Semaikan sifat welas asih di sanubari kami,

Semerbakkan cinta kasih dalam setiap pikiran, ucapan, dan tindakan kami…

Agar kami ikut menjadi rahmat bagi alam semesta…

Agar semua makhluk hidup di dunia berbahagia….

A m i n…..

 

 

Lembang 10 April 2011

Pandji Kiansantang

SURAT UNTUK TUHAN… DARI SEORANG KARYAWAN

Oleh : Pandji Kiansantang (10 April 2011)

 

Seperti Inikah dunia kerja?

Kesibukan yang tiada habisnya,

Pekerjaan yang tidak ada beresnya

Deadline dan rapat datang silih berganti.

Menghadapi omelan Atasan, dan keluhan Bawahan sudah jadi bagian Job Desc sehari-hari

Tak sadar waktu berjalan begitu cepat, usia menua, rambut mulai memutih, kening makin berkerut

Perut makin buncit dan penyakit menumpuk.

Pendapatan seakan tidak pernah cukup,

Gaji yang numpang lewat memaksa kami untuk ahli dalam hal gali lobang tutup lobang.

Jalanan makin macet, 2 jam perjalanan pergi dan 3 jam perjalanan pulang sudah menjadi hal biasa. Apa boleh buat umur, habis di jalan.

Sering kali saat pulang bekerja, anak sudah lelap tidur, dan kami pergi bekerja saat  mereka belum terbangun.

Rutinitas membuat kita kehilangan kemanusiaan dan menjadi robot di tempat kerja

Stress seakan-akan sudah menjadi kompetensi kami.

Kami ingin menjadi Karyawan Teladan, bukan karyawan Telatan.

Bersosialisasi di kantor untuk Net-working, bukan Not-working

Kami ingin dapatkan Promosi, bukan Promo-singkir.

Karyawan adalah Asset, bukan Keset

Karyawan seharusnya Di-berdayakan, bukan Di-perdayakan

Jika kami belum berprestasi, kami ingin Dibina, bukan Dibina-sakan

Semua seakan sudah lengkap, dan sudah kami lakukan, kecuali satu hal : bersyukur dan berterima kasih.

Terima kasih Tuhan, Kau telah karuniakan kami rezeki dan pekerjaan yang menafkahi istri dan anak kami.

Ampuni kami Tuhan karena tidak pernah merasa puas dan selalu menjerit kekurangan rezeki

Ya Tuhan Kami, jadikan kami sebagai Makhluk-Mu yang pandai bersyukur

Tentramkan hati kami dengan apapun yang telah kami miliki, jangan biarkan hati kami risau dengan apa-apa yang dimiliki orang lain dan belum kami miliki.

Bimbing kami untuk meraih Sukses, yaitu mendapatkan apa yang kami inginkan

Tapi di atas segalanya, ajarkan kami tentang arti sesungguhnya dari Bahagia yaitu menginginkan apa yang telah kami dapatkan.

Jangan jadikan pekerjaan kami sekedar menghabiskan usia, melainkan hari-hari untuk menghimpun tabungan pahala dan menciptakan berbagai hasil karya yang bermanfaat.

Jadikan pekerjaan kami sekarang sebagai sarana ibadah dan niat untuk membesarkan nama-Mu

Terangi kami agar tetap menapaki Jalan Lurus dalam bekerja, tidak tergoda melakukan penyimpangan dan penyalahgunaan.

Jadikan rekan kerja kami sebagai Mitra Kebaikan, dan tempat kerja kami sebagai Ladang Amal Kebajikan.

Berkahilah gaji kami, jadikan mampu mencukupi dan dapat menabung untuk masa depan kami.

Berilah kami kemampuan mengelola uang untuk membedakan antara yang benar-benar Kebutuhan dan yang sekedar Keinginan untuk memenuhi hasrat gaya hidup

Majukan karier kami atas dasar prestasi, bukan dengan menjilat atasan dan menginjak bawahan.

Karuniakan kami kemampuan untuk membina, sehingga rumput di pekarangan tetangga tidak terlihat selalu lebih hijau, karena kita tidak pernah merawat rumput di pekarangan sendiri.

Jadikan semangat bekerja sebagai karakter kami sehingga kami meyambut Senin pagi sama bersemangatnya dengan menyongsong Jum’at sore. Biarkan kami mengubur dalam-dalam ”I don’t like Monday” dan memendam kegembiraan ”Thanks God it’s Friday”

Seimbangkan hidup kami antara tugas dan keluarga,

Antara bekerja dan olahraga…,

dan untuk mencari kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak.

Walaupun dipisahkan oleh jarak dan waktu, jangan jauhkan hati kami dengan orang-orang yang kami kasihi.

Sadarkan kami bahwa kehidupan bagai roda beputar. Tak selamanya kita selalu berada di atas ataupun di bawah.

Hindarkan agar kami tidak mendewakan jabatan sebagai status dan kekuasaaan, tapi sebagai amanat dan tanggung jawab

Lembutkan hati kami untuk dapat bekerja sama dengan rekan kerja kami.

Buka mata-hati kami untuk Peduli dan Ikhlas membantu mereka yang memerlukan bantuan.

Mampukan kami untuk lebih menghargai anak buah yang selama ini membantu kami. Mudahkan kami untuk secara tulus melakukan hal-hal yang sesungguhnya sederhana, seperti mengucapkan terima kasih bila di bantu, dan lebih jeli melihat sisi baik dari setiap orang.

Lancarkan lidah kami untuk memuji setiap kemajuan dan tugas yang dikerjakan dengan baik.

Jadikanlah kami sebagai pemimpin yang baik bagi anak buah kami.

Terima kasih kepada Atasan kami yang di tengah kesibukannya tetap berusaha membimbing kami.

Terima kasih kepada perusahaan yang telah begitu baik kepada kami dengan menjadi jalan rezeki bagi kami.

Di atas segalanya, kubersujud berterimakasih pada-Mu Sang Maha Pencipta.

Kau jadikan dunia ini begitu indah dan kehidupan ini begitu berharga

Ya Tuhan-ku jangan kerdilkan diri kami dengan kesombongan dan sifat takabur. Tinggikan derajat kami dengan Ilmu Padi, semakin berisi, semakin rendah hati.

Tegarkan kami untuk menerima gelombang perubahan menuju kemajuan…

karena sesungguhnya di dunia ini tidak ada yang tetap kecuali perubahan itu sendiri.

Karuniakanlah Ilmu-Mu agar kami terus mau belajar dengan berbesar hati untuk senantiasa memperbaiki kekurangan-kekurangan kami.

Akhirnya Tuhan ku jadikan keberadaan kami di dunia yang fana ini menjadi karunia bagi dunia, menjadi garam dan terang bagi dunia.

Semaikan sifat welas asih di sanubari kami,

Semerbakkan cinta kasih dalam setiap pikiran, ucapan, dan tindakan kami…

Agar kami ikut menjadi rahmat bagi alam semesta…

Agar semua makhluk hidup di dunia berbahagia….

A m i n…..

Lembang 10 April 2011

Pandji Kiansantang

madAH sejarAH

Oleh : Pandji Kiansantang   (1 November 2009)

 

Karena sejarAH bukan hanya rekaman pertumpahan darAH,
lukisan luapan penguasa yang marAH
dan para tentara yang menjarAH

Tapi sejarAH yang sAH dan sesuai kaidAH
juga adalAH sumpAH serapAH
dari mereka yang lemAH, kalAH dan menjadi sapi perAH
Dan saksi bisu dari bangsa-bangsa yang telah punAH dan musnAH

Karena sejarAH bukan hanya membahas kaum yang hidup mewAH
Tapi juga mereka yang bergelut di sawAH dan di tumpukan sampAH
Kubertanya apakah sejarAH yang ada sekarang itu berkAH atau musibAH

Semua ini adalAH amanAH bagi ahli sejarAH
untuk meluruskan berbagai salAH kaprAH
hingga fajar baru merekAH
Kampus UI Depok, 1 November 2009

BANGKITLAH RANAH MINANG

(*sumbangan kecilku untuk bangkitkan semangat dan optimisme korban gempa)

Oleh : Pandji Kiansantang (16 Oktober 2009)

 

Selepas Lebaran, di penghujung September, tak dinyana gempa besar melandamu

Sekonyong-konyong muncul suara gemuruh mengiringi goncangan dahsyat yang meluluh-lantakkan

Bukan sekedar getaran dan goyangan, tapi hempasan yang menjungkirbalikkan semuanya.

Sudah tak ada lagi kesombongan manusia yang menzhalimi alam karena kerakusan yang tiada habisnya.

Saat itu manusia menyerah, bertekuk lutut di hadapan kuasa alam yang mencari keseimbangannya.

Pekik Takbir membahana menghiba pertolongan Tuhan, diiringi jeritan ketakutan dan isak tangis kesedihan.

Lalu semuanya diam membisu.

Hiruk pikuk kota berubah menjadi Keheningan yang mencekam.

Ramainya kota menjadi Kota mati.

Hanya dalam hitungan Detik, semua yang dibangun selama Puluhan tahun menjadi Luluh lantak.

Yang tersisa hanya puing-puing kebinasaan.

Hotel, sekolah, Rumah dan Rumah Ibadah hancur berantakan tanpa pandang bulu.

Semua luruh… runtuh… rata dengan tanah…

Rumah Gadang yang dulu berdiri megah kini ambruk terpuruk.

Kota Padang dan Pariaman porak poranda

Kampung Tandikek lenyap bagai ditelan Bumi

Lembah Gunung Tigo menjadi Kuburan Massal

Ribuan orang meregang nyawa

Puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal dan mata pencahariannya.

Saat itu terbukti bahwa Tidak ada yang Abadi dalam hidup di dunia ini.

Jika Tuhan berkehendak, Bencana akan mengalahkan Rencana manusia

Yang kemarin masih punya Rumah mewah kini menjadi Tuna Wisma dan terpaksa jadi pengungsi

Yang tadinya punya jabatan tinggi, kini kehilangan tempat kerjanya dan menjadi pengangguran.

Sekonyong-konyong orang kehilangan orangtua, suami, istri dan anak.

Dalam sekejap menjadi tidak punya apa-apa…

Namun Penderitaan belum berakhir.

Kelaparan, Trauma dan Penyakit kini mengancam para pengungsi.

Ranah Minang yang malang, kini kau menangis dalam duka yang dalam

Takkan kukatakan dengan berlagak empati bahwa ”Kami dapat merasakan penderitaanmu”…

Karena sesungguhnya kami takkan bisa, bahkan mungkin takkan setangguhmu dalam menahan derita ini.

Kutakkan bisa merasakan penderitaan korban yang terjepit dalam reruntuhan, yang hampir putus asa menunggu datangnya bantuan.

Atau sekedar, menyelami perasaan korban di daerah terpencil yang terpaksa tidur beratapkan langit karena trauma khawatir gempa susulan…. sambil menggigigil karena guyuran hujan dengan perut kelaparan karena bantuan belum juga datang.

Kubertanya…. Katanya negeri kita adalah kawasan rawan bencana… tapi mengapa kita tidak makin baik dalam menangani bencana?

Mengapa kita tidak pernah belajar dari pengalaman… sehingga kesalahan yang sama masih berulang?

Mengapa kita pintar dalam membuat Undang-undang dan Lembaga Penanganan Bencana, tapi sulit untuk mengerahkan alat-alat berat untuk menyelamatkan korban reruntuhan?

Mengapa bantuan menumpuk di Kantor gubenur, tapi sulit untuk mendistribusikannya sehingga korban di wilayah terpencil hampir mati kelaparan?

Mengapa masih ada mereka yang tega mengambil keuntungan di tengah bencana?

Mengapa kita selalu menyembunyikan ketidakbecusan kita dengan dalih ”kita harus pasrah karena ini adalah kehendak Tuhan” ?

Seperti judul lagu… ”Badai Pasti Berlalu”…., tapi mengapa Badai itu terus datang silih berganti?

Onde mande… Apa yang terjadi ?

Kuterbayang keindahan ranah Minang… dari eloknya Ngarai Sianok, Lembah Anai dan Danau Maninjau sampai pesona ombak Mentawai, surga bagi peselancar dunia..

Kuteringat indahnya Tari Piring dan Tari Randai  serta kejayaan Kerajaaan Pagarruyung.

Lidahku takkan lupa aroma masakanmu, yang pedas menggigit dan terkenal sampai mancanegara…

Kuterngiang prinsip hidupmu ”Adat basandi Syara’, Syara’ basandi Kitabullah”… Adat bersendi Agama, Agama bersendi Kitab suci

Ku terilhami semangat demokrasimu sesuai motto „Tuah Sakato“ … Se-ia Sekata

Kau junjung Kaum Wanitamu dalam sistim warismu yang unik dan tiada duanya.

Kau matangkan kaum priamu dengan budaya Merantau sebagai batu ujian dalam menjalani kehidupan

Kau sejahterakan wargamu dengan jiwa dagang di segala bidang

Kau lestarikan ikatan batin para perantaumu yang selalu ingat daerah asalnya walau ”Kampuang nan jauh di mato”

Dan takkan kulupa bahwa kau..,. Minangkabau, tanah para pejuang.

Semangat kepahlawanan Imam Bonjol, Mohammad Hatta, Sutan Syahrir sampai Buya Hamka dan Chairil Anwar telah mengharumkan negeri ini.

Ranah Minang, deritamu adalah derita kami… tangisanmu adalah tangisan kami

Kini Indonesia bersatu dalam peduli

Yang membuat kita tetap hidup.. di saat kita kehilangan hampir segalanya… adalah masih adanya Harapan yang tersisa

Kupercaya bahwa kau Minangkabau, sesuai asal usul namamu, Kerbau yang menang tanding, dan Negeri para Pemberani….. dapat segera Bangkit dengan semangat Pemenang.

Bangkitlah Minang-ku !!!

Pandji Kiansantang,

Jakarta, 16 Oktober 2009

“GOMBAL WARNING”

Oleh : Pandji Kiansantang (5 Juni 2008)

Renungan di Hari Lingkungan Hidup Dunia (World Environment Day) pada 5 Juni 2008 yang bertemakan “Ubah Perilaku dan Cegah Pencemaran Lingkungan”

 

“GOMBAL WARNING”

Ketika nasib dunia terus menerus diseminarkan
Ketika peserta seminar pulang dan melupakan apa yang diseminarkan
Ketika Rencana Aksi tinggal di atas kertas
Ketika Slogan berhenti tidak menjadi Tindakan nyata
Ketika Perbuatan sendiri berbeda dengan apa yang diserukan
Ketika semua tahu tentang Bahayanya, tapi Tidak melakukan apa-apa
Ketika Peringatan Bahaya dianggap sebagai Omong kosong besar
Sampai akhirnya Kiamat Dunia menghapus kita…
Jangan biarkan Global Warming menjadi “Gombal Warning”

(*Pandji Kiansantang untuk Hari Lingkungan Sedunia, 5 Juni 2008)

 

AN APOLOGY TO MOTHER EARTH

Kulihat Ibu Bumi menangis,
Melihat perilaku penduduk Bumi dan mengadu :
“Mereka gunduli hutan perawanku dengan dalih membuka lapangan usaha”
“Mereka racuni udaraku dengan polusi pabrik dan transportasi”
“Mereka hancurkan kesuburan tanahku dengan menimbun sampah raksasa”
“Mereka nodai kesucian air sungai dan lautku dengan sampah dan limbah pabrik”

Kulihat Ibu Bumi berkata gusar,
“Kurindu perilaku mereka dulu yang menjaga harmoni dengan alamku”
“Kusesalkan nafsu serakah yang mereka namakan industri dan gaya hidup modern”
“Kupenuhi segala kebutuhan mereka dan kujadikan dunia ini sebagai hunian yang indah…. tapi inikah balasan mereka?”

Kulihat Ibu Bumi bergejolak marah,
“Sabar Kutunggu keinsyafan mereka, tapi justru perilaku mereka semakin menggila”
“Aku sudah cukup menderita, jadi Sekarang Kukatakan pada kalian, wahai Manusia :
“Karena kalian tidak pernah bersyukur dan selalu menganiayaku, maka kini seluruh alam semesta berteriak melawan : Kami bukan sahabatmu lagi! ”
“Rasakan pembalasan kami akibat perilaku kalian”
“Rasakan dahsyatnya bencana alam yang menimpa kalian”
“Rasakan Kiamat Dunia yang sesungguhnya kalian ciptakan sendiri”

Kutakpernah melihat Ibu Bumi semarah itu, kubergidik ngeri melihatnya.
Tapi kulihat di sudut pelupuk matanya ada tetesan air mata
Kusaksikan secercah kasih sayang dalam Angkara Murkanya
Kudengar ia berkata lirih “Sesungguhnya masih kutunggu insyafnya anak-anak bumiku”

(*Pandji Kiansantang untuk Hari Lingkungan Sedunia, 5 Juni 2008)

“Cara kita berterima kasih, membalas budi baik bumi kita adalah tetap bertekad mempertahankan kegiatan pelestarian lingkungan alam. Lakukanlah pelestarian lingkungan dengan sepasang tangan yang biasa digunakan untuk bertepuk tangan” (Master Cheng Yen)

PANDJI KIANSANTANG